Tradisi Menongkah Kerang Takkan Hilang

Tradisi Menongkah Kerang Takkan Hilang

Porospro.com - Masyarakat Suku Laut Indragiri Hilir, Riau yang juga dikenal dengan Suku Duano memiliki tradisi yang unik dan bertahan hingga kini, yakni menongkah kerang. Sejarah menongkah kerang sudah panjang dan menjadi inspirasi olahraga selancar (surfing) di Hawai yang pertama digelar tahun 1767.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka 1999, Jakarta, tongkah adalah papan untuk tumpuan (titian) biasanya dipasang ditempat becek atau basah. Pemandangan menongkah kerang ini hanya ditemukan di perkampungan Suku Laut. Masyarakat ini bermukim di beberapa kecamatan di Indragiri Hilir seperti Kecamatan Tanah Merah dan Concong. Orang laut Inhil menggunakan tongkah sebagai alat bantu yang tergolong unik yang digunakan untuk mencari/menangkap kerang darah (Anadara Granosa). Tiangan dalam dialek Orang Laut. Sedangkan aktifitasnya disebut menongkah (Mut tiangan – dalam dialek Orang Laut atau Mud Ski atau Ski Lumpur).

Menongkah kerang adalah teknik Orang Laut dalam menangkap kerang di padang lumpur. Kegiatan ini adalah dengan menggunakan sebilah papan sebagai tumpuan sebelah kakinya dan tempat mengumpulkan kerang yang telah didapatkan. Sementara sebelah kakinya lagi adalah sebagai pengayuh tongkah. Sebuah Tongkah biasanya terbuat dari belahan kayu besar dalam keadaan utuh, tetapi tidak jarang juga tongkah terdiri dari gabungan dari belahan papan. Panjang tongkah rata-rata 2 M s/d 2,5 M dengan Lebar 50 Cm s/d 80 Cm dan ketebalan 3 Cm s/d 5 Cm.

Tongkah umumnya terbuat dari jenis kayu Pulai dan Jelutung dan lain-lain, kedua ujung Tongkah berbentuk lonjong (lancip) dan melentik keatas, hal ini dimaksudkan agar pergerakannya dapat lancar dan bila kurang melentik seringkali Tongkah menghujam atau menancap kedalam lumpur, bentuk Tongkah secara umum seperti papan selancar yang sering digunakan oleh olahragawan air (peselancar).

Aktivitas ini dilakukan pada saat air sungai Indragiri Hilir sedang surut. Dalam setiap sebulan, menongkah kerang hanya bisa dilakukan sekitar 20 kali. Biasanya waktu menongkah antara pukul 04.00 sampai 14.00 WIB. Permukaan pantai penuh dengan lumpur saat air surut. Saat itulah warga menongkah mencari kerang.

Dalam hitungan masyarakat setempat, ada sekitar 17 lokasi pengambilan kerang. Ribuan hektare lautan lumpur di Sungai Bidari, Sungai Besar, Sungai Kecil, Sungai Beruang, Sungai Bukit, Desa Sungai Laut, Sungai Gamak Kecil, Sungai Gamak Besar, Sungai Temiang Kecil, Sungai Temiang Besar, Sungai Menteli, Sungai Lada, Sungai Barogong, Sungai Keramat dan Desa Sungai Buluh itulah, tempat Orang Suku Laut mencari kehidupan.

Aktivitas menongkah yang dilakukan masyarakat tergantung kondisi pasang dan surutnya air. Jika kegiatan menongkah dilakukan malam hari, tentu masyarakat harus menyiapkan alat penerangan untuk dapat mengambil kerang. Selain menggunakan penerangan dari lampu yang sangat sederhana seperti pelita dan sebagainya, ada juga masyarakat yang menggunakan lampu neon dan accu. Kerang-kerang akan memancarkan sinarnya saat diterpa cahaya lampu dan cahaya yang terpancar itu menandakan di lokasi itu terdapat kerang. Dalam waktu sekejap pula, tangan-tangan penongkah meraba dan mengambil kerang

Pada tahun 2008 lalu, menongkah massal yang dilakukan komunitas Suku Duano mendapat penghargaan MURI dengan kategori Menongkah massal yang melibatkan lebih dari 500 peserta. Menurut Ketua Suku Duanu, Sarpan Firmansyah, tradisi menongkah sudah ada di perkampungan suku laut Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir sejak tahun 1685. Dari sinilah berawal munculnya turunan menongkah seperti selancar atau surfing yang kali pertama di adakan di Hawai pada tahun 1767 dan terus berkembang ke skatboard pada tahun 1940 di Amerika Serikat. (Advertorial)