Keutamaan dari Menyegerakan Waktu Berbuka Puasa

Keutamaan dari Menyegerakan Waktu Berbuka Puasa

Porospro.com - Waktu berbuka puasa ditandai dengan terbenamnya matahari. Saat adzan maghrib mulai berkumandang, segeralah untuk berbuka puasa karena hal itu sunnah.

Waktu berbuka puasa menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim setelah seharian berpuasa. Saat berbuka, ada anjuran untuk menyegerakan. Maksudnya bukan buka puasa sebelum waktunya, tetapi segera batalkan puasa saat adzan maghrib mulai berkumandang. Tidak perlu menunggu adzan sampai selesai atau setelah sholat maghrib.

Menyegerakan waktu berbuka merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam sabdanya ia mengatakan, "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka," (HR. Bukhari Muslim).

Nabi Muhammad SAW biasa berbuka puasa sebelum menunaikan sholat maghrib. Nabi Muhammad SAW biasanya berbuka puasa dengan memakan ruthob atau kurma basah.

Jika tidak ada ruthob, beliau berbuka dengan tamer atau kurma kering. Dan jika tidak ada tamer, beliau berbuka dengan seteguk air.

Selain itu, Allah SWT juga lebih menyukai orang yang menyegerakan berbuka puasa. Imam Nawani dalam kitabnya Riyadhus Shalihin mengatakan jika ingin mendapat cinta dan ridha dari Allah SWT, maka kita harus menyegerakan berbuka puasa sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini secara khusus Allah SWT berfirman dalam Hadits qudsi, "Hamba-Ku yang paling aku cintai adalah hambaku yang menyegerakan berbuka," (Riwayat Tirmidzi).

Karenanya, dengan menyegerakan waktu berbuka puasa, umat Muslim akan mendapat kebaikan. Salah satu bentuk kebaikannya adalah membedakan cara beribadah orang-orang kafir.

Nabi Muhamma SAW bersabda, ".... Karena orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkan berbuka hingga bermunculan bintang-bintang," (Riwayat Abu Daud).

Juga seperti yang dikatakan oleh para ulama. Syaikh al-Bassam berkata, "kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan berupa mengikuti sunnah dan tidak diragukan lagi, mengikuti sunnah adalah sebab meraih kebaikan dunia dan akhirat," (Taudhihul Ahkam, 3/520).

 

Sumber: detik.com