Porospro.com - Terpilihnya Sahabat Sahrizal Rahman (Ari) sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Dumai periode 2026–2027 harus dibaca sebagai momentum penting kebangkitan gerakan mahasiswa di daerah. Di tengah melemahnya peran kontrol sosial dan maraknya pragmatisme politik, PMII dituntut kembali ke khittahnya sebagai organisasi kader dan gerakan.
“Amanah ini bukan sekadar jabatan struktural, tapi tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali tradisi kritis PMII,” tegas Ari dalam pernyataannya.
Menurutnya, PMII Dumai ke depan tidak boleh sekadar menjadi organisasi seremonial, tetapi harus hadir nyata di tengah persoalan rakyat. Pengkaderan ideologis dan intelektual harus diperkuat agar kader PMII tidak tercerabut dari nilai keislaman, keindonesiaan, dan keberpihakan sosial.
“Kami akan fokus membangun kader yang berani bersuara, berpikir jernih, dan tetap santun dalam bersikap. Kritik kepada pemerintah dan stakeholder harus dibangun secara objektif, berbasis data, dan berorientasi solusi,” ujarnya.
Ari juga menegaskan bahwa PMII Dumai akan mengambil posisi sebagai mitra kritis pemerintah daerah. Mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat, namun tanpa ragu mengoreksi kebijakan yang melenceng dari kepentingan publik.
“PMII bukan oposisi yang gaduh, tapi juga bukan stempel kekuasaan. Kami berdiri di tengah, berpihak pada kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari senior, alumni, hingga masyarakat sipil, untuk turut menjaga marwah PMII sebagai organisasi mahasiswa yang independen dan berintegritas. Menurutnya, kebangkitan PMII Dumai hanya bisa terwujud melalui kerja kolektif dan kesadaran bersama.
Kepemimpinan Ari diharapkan menjadi angin segar bagi gerakan mahasiswa di Kota Dumai, sekaligus menandai lahirnya kembali PMII sebagai ruang kaderisasi dan perlawanan intelektual yang bermartabat.